Memasuki Budaya Baru : Menjadi Kompeten (1)

MENJADI SEORANG KOMUNIKATOR ATARBUDAYA YANG KOMPETEN
Kita mulai pembahasan mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya dengan memperhatikan: “Komunikasi dalam budaya yang berbeda kadang diasosiasikan dengan respons emosional yang kurang baik yang mengarah pada perasaan kikuk dan gelisah”.
Tujuannya adalah menunjukkan kemampuan yang harus kita kembangkan untuk menjadi komunikator antarbudaya yang berkualitas.
KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA : MENJELASKAN KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTERBUDAYA
Spitzberg : Kompetensi komunikasi antar budaya adalah “perilaku yang pantas dan efektif dalam suatu konteks tertentu”. Lebih detai dari KIM : kompetensi komunikasi antarbudaya merupakan “kemampuan internal suatu individu untuk mengatur fitur utama dari komunikasi antarbudaya : yakni, perbedaan budaya dan ketidakbiasaan, postur inter-group, dan pengalaman stress”. Apa yang dinyatakan dua definisi ini pada kita adalah bahwa menjadi komunikator yang kompeten berarti memiliki kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dan sesuai dengan anggota dari budaya yang memiliki latar belakang linguistik-kultural.
KOMPONEN DALAM KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Banyak penelitian dalam hal kompetensi komunikasi antarbudaya mengungkapkan 5 komponen kompetensi yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dan pantas dalam budaya yang lain.
1.      Motivasi untuk berkomunikasi
Pittinsky, Rosenthal, dan Montoya bahwa motivasi dalam hubungannya dengan kompetensi komunikasi antarbudaya berarti bahwa motivasi dalam hubungannya dengan kompetensi komunikasi antarbudaya berarti bahwa kita memiliki keinginan pribadi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi kita. Jadi sebagai komunikator yang penuh motivasi, kita menunjukkan ketertarikan kita, berusaha untuk berbicara serta mengerti, dan menawarkan bantuan. Selanjutnya , kita menunjukkan bahwa kita ingin berhubungan dengan orang lain dalam level personal dan memiliki perspektif internasional ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda.
2.      Pengetahuan yang cukup mengenai budaya.
Komponen pengetahuan dalam kompetensi komunikasi antarbudaya berarti bahwa kita menyadari dan memahami peraturan, norma, dan harapan yang diasosiakan dengan budaya orang-orang yang berhubungan dengan kita.
Luckman : perawat yang tidak mengetahui perbedaan budaya berisiko salah mengerti usaha pasien untuk berkomunikasi. Sebagai akibatnya, pasien mungkin tidak menerima perawatan yang seharusnya. (Diaplikasikan pada dunia media)
Morreale, Spitberg, dan Barge mengindikasikan bahwa kita memerlukan dua jenis pengetahuan supaya lebih kompeten-pengetahuan konten dan pengetahuan procedural. “Pengetahuan komten meliputi pengetahuan mengenai topic apa, kata-kata , arti, dan seterusnya yang dibutuhkan mengenai bagaimana membuat, merencanakan, dan menunjukkan pengetahuan konten dalam situasi tertentu. Kita perlu kedua jenis pengetahuan dalam rangka menentukan strategi komunikasi yang tepat, protocol apa yang pantas, dan kebiasaan budaya apa yang perlu diamati.
3.      Kemampuan komunikasi yang sesuai
Smith dan Bond : Sebagai komunikator antarbudaya yang kompeten kita harus dapat mendengar, mengamati, menganalisis dan menginterpretasikan serta mengaplikasikan perilaku khusus ini dalam cara memungkinkan kita untuk mencapai tujuan kita. Sebenarnya kita telah mempelajri kemampuan ini dalam hidup kita, sehingga kita dapat berkomunikasi dengan anggota budaya kita. Kita harus menyadari, bagaimanapun, bahwa kemampuan komunikasi yang sukses dengan suatu kelompok mungkin tidak pantas bagi budaya yang lain.
4.      Sensitivitas
Kompetensi komunikasi membutuhkan partisipan suatu interaksi yang sensitive satu sama lainnya dan terhadap budaya yang ditampilkan dalam suatu interaksi.
Pittinsky, Rosenthal, dan Motoya ; Sensitivitas melipiti sifat fleksibe;,sabar,empati, keingintahuan mengenai budaya yang lain, terbuka pada perbedaan, dan merasa nyama dengan yang lain.
Spencer_Roberts dan McGovern menambahkan bahwa komunikator yang sensitive memiliki rasa toleransi terhadap ambiguitas. Hal ini berarti bahwa ketika kita melitan suatu kebiasaan dan perilaku yang aneh dan  tidak biasa, kita tidak bingung karena kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi atau menentang perilaku dan kebiasaan tersebut. Hal ini mengarah pada pemikiran lain oleh PITTINSKY, ROSENTHAL, dan MOTOYA yang percaya bahwa komunikator yang sensitive harus lebih toleran terhadap orang lain dan budaya lain serta mengembangkan perasaan allophila yaitu menyukai orang lain dan perilaku yang menginspirasi.

5.      Karakter
Seorang filsuf dan guru dari Amerika P.B. Fitzwater menuliskan “Karakter merupakan keseluruhan dari pilihan seseorang”. Jika teman bicara kita tidak menganggap kita sebagai seseorang yang memiliki karakter yang baik, kesempatan kita untuk sukses akan hilang. Dalam banyak hal, karakter kita terdiri atas baik sejarah maupun bagaimana kita menunjukkan sejarah itu.
Intinya, tentu saja , adalah bagaimana kita melaksanakan pilihan tersebut ketika kita berinteraksi dengan orang yang berbeda budayanya. Mungkin salah satu sifat yang paling penting diasosiasikan dengan karakter adalah apakah mereka dapat dipercaya atau tidak.

About oneofmyway

Me..

Posted on May 19, 2013, in Komunikasi Antar Budaya, Semester 3 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: