Era Teori Efek Terbatas

Era Teori Efek Terbatas

Teori ini muncul usai Perang Dunia ke-2 sampai tahun 1960-an.

Teori efek terbatas merupakan teori komunikasi massa yang menekankan pada kekuatan media untuk mengubah perilaku ini pada beberapa dekade berikutnya mulai mendapat beberapa kritikan. Penelitian-penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa sesungguhnya media massa memiliki efek yang kecil dalam mengubah perilaku.

Hal ini ditunjukkan oleh penelitian dari Carl I. Hovland mengenai efek film pada militer yaitu bahwa proses komunikasi massa hanyalah melakukan transfer informasi pada khalayak dan bukannya mengubah perilaku sehingga perubahan yang terjadi hanyalah sebatas pada kognisi saja.Hasil penelitian Carl Hovland menghasilkan teori perubahan sikap (attitude change theory).

Terbatasnya efek komunikasi massa hanya pada taraf kognisi dan (afeksi) ini menyebabkan teori aliran baru ini disebut sebagai limited effect theory atau teori efek terbatas. Konsep tentang teori efek terbatas ini dikukuhkan melalui karya Klapper, The Effects of Mass Communication (1960). Klapper menyatakan bahwa proses komunikasi massa tidak langsung menuju pada ditimbulkannya efek tertentu, melainkan melalui beberapa faktor (disebut sebagai mediating factor) Faktor-faktor tersebut merujuk pada proses selektif berpikir manusia yang meliputi persepsi selektif, terpaan selektif dan retensi (penyimpanan/memori) selektif. Ini berarti bahwa media massa memang punya pengaruh, tetapi bukanlah satu-satunya penyebab.

Perkembangan teknologi dan banyaknya pilihan media massa menandakan teori komunikasi linier sudah tidak cocok lagi untuk menggambarkan fenomena komunikasi massa pada era kebebasan pers.

Umpan balik dalam komunikasi massa mulai muncul dalam teori komunikasi massa yang dikemukakan oleh melvin DeFleur (1970), yang memasukkan perangkat umpan balik memberikan kemunginan kepada komunikator untuk dapat lebih efektif menyesuaikan komunikasinya.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa teori komunikasi massa tidak mengenal adanya umpan balik dalam proses komunikasi (zero feedback) sebagaimana formula Lasswell atau teori jarum hipodermik. Tahap selanjutnya muncul pengakuan bahwa umpan balik itu ada, namun datang terlambat(delayed) sebagaimana dikemukakan DeFleur.

1.Pengaruh Teknologi.

Perkembangan dewasa ini menunjukan bahwa umpan balik  dalam komunikasi massa bersifat langsung dan segera.Kecepatan umpan balik yang diterima media penyiaran dari audiennya saat ini sudah sama sebagaimana tatap muka (interpesonal), sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Salah satu pembeda antara komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa adalah percakapan antar dua orang yang bertatap muka, efek atau dampak komunikasi itu dapat dirasakan secara langsung, sedangkan pada komunikasi massa, yang menggunakan media massa bahwa efek tidak dapat dirasakan secara langsung atau dengan kata lain, efek itu tertunda.

Secara umum, komunikasi antarpribadi dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional, yaitu tindakan pihak2 yang berkomunikasi secara serempak menyampaikan dan menerima pesan.

Secara sederhana, komunikasi massa didefinisikan sebagai komunikasi melalui media massa.

Secara teknis, ada 4 tanda pokok atau ciri2 perbandingan antara komunikasi massa dengan sistem komunikasi interpersonal Noelle-Neumann, 1973), yaitu :

  1. Bersifat tidak langsung, artinya harus melewati media teknis;
  2. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta komunikasi;
  3. Bersifat terbuka, artinya ditujukan  kepada publik yang tidak terbatas dan anonim;
  4. Mempunyai publik yang secara geografis tersebar. Media penyiaran sudah memiliki analogi yang sama dengan komunikasi interpersonal sebagaimana dua orang yg sedang berbicara tadi hal ini dapat dilihat dari banyaknya program interaktif pd media penyiaran.

Kesimpulannya adalah bahwa ciri-ciri komunikasi massa sudah tidak dapat dibedakan lagi dengan komunikasi antarpribadi (interpersonal). Hal itu terjadi jika tingat teknologi komunikasi dan kebebasan informasi yang terdapat pada suatu masyarakat sudah cukup tinggi sehingga hambatan ruang dalam komunikasi tidak menjadi permasalahan lagi.

2.Pemikiran Mutakhir

Tiga teori komunikasi (teori S-R, Lasswell, dan DeFleur) memiliki kesamaa yakni sama-sama memulai proses komunikasi dari pihak pengirim pesan (sender) atau komunikator, sedangkan dalam umpan balik dua teori tidak mengenal umpan balik. Defleur mengenal umpan balik , namun umpan balik datang terlambat (delayed effect).

Westley  dan Maclean (1957) menambahkan peran yang lebih besar kepada komunikator (seperti wartawan yang berada dalam organisasi media formal) yang berada antara masyarakat dan audien, urutannya tidak lagi sederhana sebagai mana definisi lasswell, yaitu pengirim, pesan, saluran, dan penerima, namun menjadi :

Peristiwa dan ‘suara-suara’ dalam masyarakat (events and ‘voices’ in society);

  1. Saluran/ peran komunikator (channel/ communicator role);
  2. Pesan;
  3. Penerima.

Pandangan Westley dan MacLean memiliki tiga ciri penting, yaitu :

  1. Media memiliki peran untuk melakukan pemilihan atau seleksi atas pesan apa saja yang dapat dikirimkan kepada audien.
  2. Proses pemilihan pesan dilakukan atas pertimbangan pesan apa yang diinginkan audien dan pesan apa yang menarik audien.
  3. Komunikasi yang terjadi tidak bersifat purposive, dalam arti bahwa media massa tidak bertujuan untuk membujuk, mendidik, dan tidak untuk memberikan informasi.

Joseph R.Dominick, dalam bukunya The Dynamic of Mass Communication (2002), memperkenalkan teori komunikasi massa dengan urutan sebagai berikut : (1) Lingkungan – (2) media massa – (3) saluran – (4)khalayak – (5)umpan balik. Dalam model ini, proses komunikasi tidak diawali dengan komunikator, tetapi dari lingkungan

  1. Media bertindak sebagai gatekeeper yang melakukan decoding, interpretasi dan encoding sehingga menjadi pesan dan kemudian dikirimkan kepada khalayakaudiennya.
  2. Audience yang menerima pesan itu kemudian melakukan decoding, interpretasi dan encoding atas pesan yang diterimanya dan sebagian di antara audien kemudian melakukan umpan balik.

Model Dominick ini merupakan adaptasi dari model komunikasi Wilbur Chramm (1954) yang mirip juga dengan model komunikasi massa oleh Westley dan Maclean (1957) melalui pera wartawannya, berada pada posisi antara ‘masyarakat’ dan ‘audiennya.’ modelnya adalah (1)  event and voices in society – (2) channels –(3) messanger –(4) receiver

About oneofmyway

Me..

Posted on May 19, 2013, in Semester 3, Sosiologi Komunikasi Massa and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: