Lingkungan

Pembangunan Itu Mengorbankan Keluarga Harimau

Pembangunan jalan baru yang menghubungkan Kota Bangko dan Kota Sungai Penuh di Provinsi Jambi saat ini tengah berlangsung. Pembangunan itu sangat dinanti-nantikan masyarakat karena di sepanjang jalan yang lama kerap terjadi longsor. Belakangan, baru diketahui bahwa pembangunan jalan baru telah mengganggu ketenteraman satu keluarga harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Pemerintah Provinsi Jambi membuka jalan hampir 20 kilometer secara bertahap sejak dua tahun lalu. Pengerjaannya kini sudah lebih dari 50 persen. Sejumlah bukit yang berdekatan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dibelah dan dikeruk demi pembangunan.

Akhir tahun 2009, pemerintah dan aktivis lingkungan baru menyadari bahwa bukit-bukit yang dibuka menjadi jalan baru itu merupakan ruang jelajah harimau sumatera.

Seekor induk bersama dua anaknya yang baru lahir didapati warga Kecamatan Muara Imat, di perbatasan Kabupaten Merangin dan Kabupaten Kerinci, berkeliaran di jalan. Terkadang mereka berada di sekitar permukiman atau di lembah perbukitan. Warga juga melihat seekor harimau jantan.

Binatang buas itu tidak mengganggu manusia, tetapi sekali-sekali memangsa hewan peliharaan warga. Ketika duduk di tepi jalan, keluarga harimau pun tak mengganggu pengendara yang melintas.

Namun, keberadaan harimau mengusik ketenangan masyarakat. Sejumlah warga yang belum lama ini membangun warung di tepi jalan baru resah dan tidak berani keluar rumah. Mereka tidak berani berladang dan mendesak petugas Balai Besar TNKS menangkap harimau.

Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNKS Agus Sitepu mengatakan, atas desakan masyarakat, pihaknya telah memasang perangkap. Harimau sempat masuk ke dalam perangkap pada pertengahan Maret, tetapi terlepas kembali sebelum direlokasi ke dalam hutan.

Dian Risdianto, Manajer Lapangan Tiger Protection and Conservation Unit, program kerja sama Flora Fauna Indonesia (FFI) dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, mengatakan, konflik harimau dan masyarakat dimulai pada Oktober 2009.

Konflik terus meningkat dan mendorong perburuan liar. Pihaknya tiga kali mendapati jerat harimau di perbukitan itu.

Pembangunan jalan di satu sisi mempermudah akses antardaerah dan mengangkat perekonomian. Namun, pembangunan juga mengorbankan habitat satwa liar. Satu keluarga harimau itu kini terancam oleh aksi perburuan di kawasan yang merupakan ruang jelajah satwa itu.

Relokasi anak

Pihaknya mengupayakan penyelamatan harimau. Atas rekomendasi sejumlah pakar, diperoleh kesimpulan untuk tidak merelokasi induk betina dan pejantan. Pemindahan harimau dewasa dinilai tidak akan efektif meredakan konflik karena ruang jelajah yang kosong bakal diisi harimau dewasa lain. Relokasi akan dilakukan pada anak harimau, tetapi menunggu keduanya lepas dari menyusu pada induknya.

Konflik juga hanya akan reda jika masyarakat diberi edukasi mengenai cara hidup dalam habitat harimau sumatera. ”Manusia yang membangun di area jelajah harimau sehingga mereka harus menyesuaikan demi keselamatan diri,” ujar Dian.

Masyarakat dapat berladang, tetapi jangan terlampau sore. Mereka juga jangan sering keluar rumah malam hari karena harimau cenderung aktif pada waktu itu. (Irma Tambunan)

Kompas Online, Kamis, 6 Mei 2010

  1. Apa komentar anda terhadap berita ini?
  2. Bagaimana anda menjelaskan keterdesakan ruang hidup harimau dengan pembangunan jalan ini?
  3. Bagaimana sebaiknya pembangunan dijalankan kalau menghadapi situasi yang menelantarkan habitat makluk lain di tempat pembangunan dilangsungkan?
  1. Komentar saya atas berita ini sebenarnya cukup bimbang karena pada dasarnya pembukaan jalan yang dilakukan oleh pemerinta memiliki tujuan yang baik demi keselamatan para pengendara yang melewati jalan antara Kota Bangko dan Kota Sungai Penuh. Namum muncul satu pertanyaan saat pembangunan tersebut mengganggu lingkungan sekitar terutama lingkungan alam yang masih terlindungi. kenapa saat akan dilakukan pembukaan jalan tersebut dilakukan penelitian atau pengamatan terlebih dahulu atas lahan yang akan dibuka dan atas bukit bukit yang akan diratakan tersebut. Bukannya suatu kebijakan yang wajib dilakukan apabila ingin membuka jalan yang merupakan hutan dan meratakan bukit?
  2. Seperti yang sudah saya utarakan pada komentar saya mengenai berita pembukaan jalan yang mengganggu lingkungan hidup alami harimau, saya merasa bahwa manusia seharusnya bertindak menyelamatkan atau setidaknya melestarikan lingkungan alami yang ada di lingkungan sekitarnya. Saya juga merasa wajar saja kalau harimau itu berkeliaran di tepi jalan atau bahkan masuk ke wilayah penduduk. Logikanya saja lah apabila tempat tinggal anda digusur tentu kita tidak akan membiarkan nya dan diam saja.

Seperti yang diberitakan, relokasi yang dilakukan oleh pihak pembangun tersebut saya rasa sudah cukup tepat. Hanya saja harus dipastikan bahwa relokasi dilakukan ke tempat yang tepat dan proses relokasi dilakukan dengan baik. Jebakan harimau yang digunakan haruslah aman untk harimau tersebut. Dan warga juga harus diberitahukan untuk tidak memburu harimau tersebut secara ilegal.

About oneofmyway

Me..

Posted on May 18, 2013, in Human Character & Behavior 2, Semester 2 and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: